Membakar senj[A]
Amarah, Cinta, dan Anarki
Kejahatan Dibalik Kebijakan Pemerintah
Categories: General

Oleh : Workers Power Syndicate

Belum selesai perbaikan nasib, rakyat sudah dihadapkan pada keadaan yang semakin sulit lagi. Hidup terasa sangat menyiksa dan berat untuk dijalani. Harga BBM ditunda untuk naik, sementara harga-harga kebutuhan hidup naik tak tertunda lagi. Sudah menjadi barang tentu bahwa rakyat miskin akan dikorbankan. Sementara kenyataan-kenyataan praktek korupsi yang dilakukan oleh para pejabat pemerintah yang hanya mau dibebani kemewahan ketimbang hajat hidup rakyat. Menjadi semakin manja dengan segala fasilitas-fasilitas kerja, anggaran-anggaran dana yang tidak tepat sasaran, tidak penting atau hilang jejak. Ini adalah kenyataan yang menyakitkan yang harus diterima rakyat. Dan akan menjadi sebuah peringatan untuk pemerintah bahwa di balik tubuh yang sakit itu telah membara amarah dan tidak akan pernah padam dan berhenti sekalipun diterjang peluru!

Sejak di beritakannya bahwa telah terjadi pembengkakan anggaran pemerintah tahun 2012 sebagai akibat dari meruncingnya harga minyak dunia. Kembali pemerintah berdalih bahwa pangkal permasalahan ini berada pada tidak seimbangnya permintaan dan produksi minyak yang dapat disupply kepada masyarakat. Maka kemudian diambil langkah penyelamatan untuk kembali menstabilkan ekonomi nasional yang telah terguncang oleh isu ini.

Minyak dan gas adalah sumber energi yang sangat penting bagi seluruh masyarakat. Semua orang menggunakan energi ini untuk menunjang aktivitas hidupnya. sebagai energi penggerak alat-alat produksi, alat-alat transportasi dll. Pemerintah mengatakan bahwa “ Indonesia tengah dalam krisis energi listrik dan migas, maka perlu diadakan penghematan”. Sementara itu dapat kita lihat ratusan kilang-kilang pengeboran lepas pantai dan darat di seluruh wilayah indonesia tertancap kokoh mengeksplorasi minyak dan gas dengan penuh semangat dan hasil yang sangat melimpah. Namun kemana seluruh hasil sumber daya alam bentuk minyak dan gas itu berada Sampai kemudian seluruh rakyat Indonesia yang 70% adalah rakyat miskin itu dihadapkan kenaikan BBM karena hasil produksi minyak dan gas menurun?

Jawabannya pada pemodal-pemodal asing, dari kontrak-kontrak yang disepakati dengan pemerintah dapat dengan bebas mengexplorasi hasil bumi minyak dan gas Indonesia untuk kepentingan-kepentingannya sendiri. Termasuk Eksport hasil minyak dan gas ke luar negeri seperti Malaysia, jepang, korea selatan dan tiongkok dari banyak blok-blok pengeboran yang tersebar di seluruh Indonesia antara lain blok natuna offshore di perairan natuna, lapangan Pagar Dewa di Sumatra selatan, lapangan grisik dan jambi dan banyak kilang-kilang lain yang penuh gairah ditangan perusahaan-perusahaan migas multinasional. Kenyataan ini tentu akan sangat menyakitkan untuk di mengerti. Sungguh keadaan yang memprihatinkan diatas bumi nusantara yang pada kenyataannya sangat kaya sumber daya alam. Alokasi dana hasil export migas oleh pemerintah disebutkan akan di gunakan untuk menunjang beberapa sektor pelayanan masyarakat. Pemerintah menjanjikan akan mememperbaiki sektor-sektor penting dalam pelayanan masyarakat terutama kesehatan dan pendidikan. Namun nampaknya belum ada perubahan yang signifikan. biaya untuk pendidikan masih sangat mahal untuk dapat mengeaksesnya. Banyak gedung-gedung sekolah di daerah-daerah masih jauh dari layak. Begitu juga pada sektor pelayanan kesehatan masyarakat, Biaya berobat masih jauh dari murah, birokrasi yang rumit dan banyak kejanggalan lainnya.

Indonesia telah menjadi konsentrasi para pemodal dunia untuk menanamkan modal, selain tingkat konsumsi yang tinggi adalah juga bahwa pekerja di Indonesia dapat dibayar dengan murah. Secara resmi pemerintah Indonesia melalui BKPM – Badan Koordinasi Penanaman Modal – mengundang investor (asing) dengan mengunggulkan murahnya harga tenaga kerjanya dibandingkan dengan harga tenaga kerja di negara-negara lain seperti di Filipina, Thailand, Malaysia, India dan Cina, di samping kelimpahan sumber daya manusianya (www.bkpm.go.id).

Harga tenaga kerja Indonesia secara menyolok dinyatakan paling murah di antara Negara-negara tersebut yakni US$0.6 per jam (=Rp.5,400). jika pekerja Indonesia bekerja selama 8 jam per hari, maka akan mendapatkan upah sebesar Rp. 43.200/hari atau Rp. 1.296.000/bulan. Bandingkan dengan upah Filipina dan Thailand serta Malaysia yang masing-masing US$ 1.04, US$1.63 dan 2.88/ Jam. Secara tegas dinyatakan dalam laman tersebut bahwa dari aspek biaya tenaga kerja “ upah buruh di Indonesia adalah yang paling rendah di antara 10 negara ASEAN dan bahkan jika dibandingkan dengan pusat-pusat investasi di Cina dan India”. Sedangkan Standart upah minimum buruh di Surabaya hanya sebesar Rp. 1.275.000/bulan. Banyak buruh-buruh perempuan yang digaji dengan nilai yang lebih rendah. bisa di bayangkan Apa yang bisa di dapatkan oleh para buruh dengan standard upah minimum yang sedemikian rendah? Biaya kost layak di Surabaya berkisar Rp. 400.000 s/d Rp. 500.000 per bulan , satu kali makan layak + es teh manis Rp.10.000,- dan orang makan 3 kali sehari, jadi untuk makan Rp.30.000 per hari atau Rp. 930.000 per bulan. Terhitung untuk biaya konsumsi yang dihabiskan untuk tempat tinggal dan makan sehari-hari seorang buruh dengan gaji UMR adalah Rp. 1.330.000,- . sampai disini sudah jelas bahwa terjadi ketidakseimbangan antara pendapatan dan konsumsi.

Rincian kasar diatas hanyalah habis sampai pada makan dan tempat tinggal satu orang buruh dengan gaji UMR, sementara itu banyak kebutuhan lainnya. Seperti biaya transportasi PP ketempat kerja, perlengkapan mandi, pakaian yang layak dan belum termasuk juga untuk penghidupan sebuah keluarga. Buruh, rakyat miskin secara umum kembali dikorbankan, mahalnya biaya hidup tidak di tunjang dengan perbaikan standart hidup layak.

Pemerintah tetap beramah tamah kepada para pemodal dan menjaga-nya sebagai aset negara yang hanya bisa dinikmati segelintir orang saja. semakin jauh fungsi pemerintah dan negara dari harapan rakyat, yaitu memperbaiki, melindungi dan memperjuangkan hajat hidup rakyat telah berubah menjadi seperti lembaga legal yang melegitimasi pembunuhan massal rakyatnya sendiri. Negara hanya menjadi simbol kebengisan kapitalisme. Pemerintah telah gagal menunjukkan jalan yang terang bagi rakyat., hidup rakyat tetap jauh dari sejahtera. Sungguh tragis memang, tidak ada sedikitpun bentuk penghargaan bagi buruh meski hanya untuk sekedar makan dan tinggal dengan layak. Padahal tak sedikit kelangsungan hidup pemodal itu ada di tangan buruh. melalui persetujuan Pemerintahlah upah minimum regional itu ditetapkan, dengan kenyataan konsumsi pokok seorang pekerja sangat jauh dari tercukupi. Para pengusaha tentu sumringah atas kebijakan pemerintah, pemodal akan melihat ini semua sebagai kemungkinan agar dapat mengurangi pengeluaran produksi karena di Indonesia terutama di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, bahwa pekerjaan adalah sesuatu yang dicari dengan demikian dapat memberikan upah yang murah. Begitu pula dengan para pekerja, mereka akan menerima segala nilai yang di berikan perusahaan walau murah dengan alasan susahnya mencari kerja.

Seperti seorang buruh yang rela mandi keringat di dalam pabrik yang panas bekerja lembur dihadapan mesin-mesin produksi 4-5 jam atau lebih dengan upah hanya Rp. 4.000 / jam-nya untuk dapur agar terus mengepul esok, bayar kontrakan, susu dan popok, tagihan listrik dan air dan lain-lain menumpuk di kening dan batinnya yang kemudian ia lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya tergantung mati karena desakan ekonomi yang membabi buta. Seperti juga seorang petani kurus telanjang dada dan kaki memikul cangkul dipundak-nya dan arit di tangan pergi dengan harapan kelak disaat musim panen hasilnya akan melimpah dan cukup untuk menghidupi keluarga, sambil terus berpikir mencari jalan keluar nelangsa karena harga bibit dan pupuk melambung tinggi. Namun harus rela di pukuli dan di jebloskan kedalam penjara karena mempertahankan lahan garapan-nya yang dirampas pemerintah. Oh belum cukup sampai disini ketika pemerintah menjadi sebab Seorang mahasiswi yang rela menjual diri-nya karena kebingungan karena belum juga dapat kiriman uang untuk bayar semesteran, kost dan makan setiap harinya hidup di luar kota dari orang tua-nya untuk sebuah mimpi di menjadi seorang sarjana dan bisa membuat kedua orang tua yang mungkin adalah buruh dan petani yang kuceritakan sebelumnya itu bangga.

Sebagai manusia, hal apa lagi yang mampu membuat kamu terus percaya dan menyerahkan seluruh hidupmu dalam totalitas masyarakat yang bernegara sementara negara sama sekali tidak mampu atau tidak mau memperjuangkan hidup yang layak bagi kehidupanmu, bahkan berbalik menyerangmu dengan bengis? Sudah cukup bagi Seorang pekerja bekerja selama 8 jam sehari dan kembali dengan aktivitas yang sama esok hari. Aktivitas harian seorang pekerja dalam sistem produksi kapitalis ini telah mencuri sebagian besar waktu yang kita punya untuk lebih menikmati hidup. Mengurangi bahkan menghilangkan samasekali kemanusiaan kita sebagai manusia yang bebas.

Juga setelah totalitas kita sebagai pekerja yang di hargai dengan upah yang sangat jauh dari layak, bahkan tidak cukup hanya untuk pemenuhan kebutuhan pokok agar dapat kembali bekerja. belum juga terror pemerintah berhenti sampai disini, pemerintah kembali mengancam kehidupan para pekerja secara khusus dan rakyat miskin secara umum dengan isu kenaikan BBM , Listrik dll yang berakibat pada naiknya harga-harga di pasaran. Lalu hidup seperti apa yang akan kita hidupi? Tidak ada pilihan lain, persetan dengan pemerintah dan negara! sudah cukup hidup susah mengajari kita untuk berjuang mati-matian untuk tetap hidup. Sudah cukup kemiskinan membuat kita hilang kesabaran untuk menjalani hidup yang tidak kita ingini. Sudah cukup bagi kekuatan kami yang dibangun oleh kemiskinan dan solidaritas untuk melawan dan membangun kehidupan yang lebih baik bagi semua, bukan segelintir pemodal dan pemerintah. Bangun kekuatan massa, Organisasikan amarahmu!

*via webblog Anarkis.org*

Comments are closed.