Membakar senj[A]
Amarah, Cinta, dan Anarki
…karena Kita adalah Tuhan
Categories: General

Binatang kecil itu mulai berjalan. Melepas jaring yg membelenggu badan, melampaui paksaan ketaatan. Melewati mereka yg selalu berkhotbah tentang kebaikan, tentang imbalan akan kepatuhan, tentang kebenaran: corong yg menggemakan kebesaran atas nama tuhan.

Ada apa dengan keagungan tuhan yg mengatur takdir untuk dunia dan memaksakannya tanpa ada pilihan melalui keabsolutan agama dan moralitas universal? Ada apa dengan kebesaran tuhan yg harus memaksakan semuanya seragam dibalik ketaatan yg buta? Ada apa dengan kesucian tuhan yg mengharuskan sesembahan di atas altaraltar tempat ibadah dengan janji surga atau neraka sebagai imbalannya? Ada apa dengan tuhan: sesuatu yg tak berwujud yg harus dipercayai tanpa pertanyaan?

Binatang kecil itupun kemudian berhenti untuk bersabda kepada dirinya sendiri,

“Tidak, aku tidak percaya takdir. Tidak ada yg namanya takdir, hanya perulangan abadi. Bahkan aku pun meragukan semua yg pernah dan akan kulihat. Aku tidak akan mematuhi agama dan moral universal, itu tidaklah absolut dan tidak jatuh dari langit dengan sifat memaksa. Aku akan memilih sendiri jalanku meskipun akhirnya itu menuntunku pada kesendirian: tak ada jalan kembali.

Surga(ku) adalah apa yg ku sepakati dengan diriku sendiri, begitu juga dengan neraka(ku). Itu tidak mesti tempat dan tak harus selalu indah atau jelek sekalipun.

Aku hanya perlu terus berjalan, terus menghidupi hidup dengan mencantumkan tanda tanya di ujung semua hal yg kuyakini dan kupercayai, mempertanyakan segalanya sampai aku tiba pada suatu kesimpulan dan pengetahuan baru bagiku.”

Dan seketika binatang kecil tersebut bernyawa dan menjelma menjadi Aku, ditundukkanya moral dan agama beserta tuhan: terus berproses menuju kemenjadian ke’Aku’an yg benarbenar Aku.

“Tidak ada yang namanya moralitas absolut tentang baik atau buruk
Tidak ada standar universal tentang benar atau salah
Hanya ada aku…
Dan nilai yang kupilih beserta konsekuensinya untuk diriku sendiri.”

Demi langit dan bumi, kita adalah tuhan untuk diri kita sendiri atas nama amarah, cinta, dan pembangkangan_

Malang, 5 Oktober 2012

Leave a Reply